Suatu Sore di Kampus FIA UB
Sore itu aku dan teman-teman kuliahku sedang menunggu perkuliahan di salah satu gedung kuliah yang sudah tua. Maklum fakultasku yaitu Fakultas Ilmu Administrasi saat itu memiliki gedung yang paling tua dan paling jelek hehe diatara semua fakultas yang ada di Universitas Barwijaya Malang. Tapi saat ini beda karena sudah ada 2 gedung baru yang bagus. Oke kembali kecerita awal, seperti biasa kedatangan dosen yang sedikit terlambat membuat kami para mahasiswa harus menjadi “wayang”. Meminjam istilah pertunjukan wayang kulit yang di jajar di layar warna putih. Kami secara tidak sadar juga berdiri berjajar dengan latar belakang tembok putih persis seperti pertunjukan wayang kulit.
Ketika asyik ngobrol dengan temanku aku di kejutkan oleh suara orang tua. “Bolu…” demikian teriakannya lirih karena tenaga yang sudah habis. Seorang kakek tua dengan jalannya yang tertatih tatih menawarkan dagangannya. Ia membawa kue bolu dalam kotak seng berukuran kubus. Kotak itu memiliki lebar kira – kira 30an centi meter. Tutupnya berada diatas dengan cara membawa ditaruh didepan dada. Ada tali yang menyangga melingkar dilehernya.
“Kasihan ya kakek itu” kataku pada temanku, “sudah setua itu masih harus bekerja membanting tulang”. Dalam hati aku membatin dan berdoa semoga aku kelak tidak bernasib sama dengan kakek itu. Usia yang seharusnya memasuki masa pensiun dimana aku tinggal menikmati saja sisa hidup dan tidak harus bekerja keras lagi. Temenku kemudian memanggil bapak penjual kue bolu tersebut. “Pak beli satu ya, berapa?”. katanya sambil mendekat bapak tua itu. Dengan muka berbinar bapak tua itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah kami. Ia dengan tangan keriputnya segera membuka tutup toples tempat kue bolu yang dipondongnya. Diambilnya satu bungkus kue bolu dari dalamnya dan dimasukkan dalam tas kresek kecil. Segera diserahkan ke temanku dan temanku membayar sejumlah harga kue yang dibelinya.
Tanpa di komando beberapa temanku melakukan hl yang sama. Membeli kue bolu pada kakek tua itu. Setelah temanku mendapatkan apa yang dia beli ia kembali menndekati aku. “Kamu belum makan ya?” tanyaku segera. “Aku masih kekenyangan malah” jawabnya hanya dengan nyengir. “lalu kenapa membeli kue itu?” tanyaku keheranan. “Aku cuma kasihan aja sama dia” katanya sambil membuka bungkus kue dan membagikan pada teman – teman yang lain. Usut punya usut ternyata beberapa teman yang membeli tadi memiliki perasaan yang sama. Ternyata mereka tergerak membeli bukan karena lapar atau menginginkan kue itu melainkan karena kasihan sama penjualnya. Aku tiba – tiba merinding mendengarnya.
Pelajara yang aku ambil :
Pertama akau merasakan benar sungguh Maha Besar Allah SWT yang menjamin Rezeki hambanya yang mau berusaha dan bersabar. Yang kedua bahwa ketika kita membeli sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan namun atas dasar iklas dan ingin berbagi maka sama dengan ibadah. Aku bisa merasakan betapa lembut hati teman – temanku yang rela merogoh uang saku mereka untuk membeli kue pada orang yang sudah tua itu untuk berbagi meringankan bebannya.





