Ruwetnya Sepakbola Indonesia
“Pusiiiing!!!” itulah yang aku rasakan saat ini. Bukan karena mikirin utang atau mikirin kerjaan, tapi mikirin sepakbola Indonesia. “Ngapain mikirin hal gak penting banget seh?” kata temanku pada suatu saat letika aku ngajak ngobrol tentang sepakbola nasional. “Eh jangan salah ya, sepakbola adalah identitas suatu bangsa” kataku membela diri. Aku sama sekali gak bermaksut sok sokan ikut memikirkan nasib bangsa, tapi sebagai penggemar sepakbola tentu perhatianku tidak akan lepas dari masalah yang sedang melanda dunia persepakbolaan kita.
Clash Of The Titans
Kalau boleh saya gambarkan kondisi sepakbola Indonesia saat ini ibarat “Clash Of The Titan”. Pertempuran dua kekuatan besar yang berusaha mengendalikan PSSI saling bertempur menancapkan pengaruhnya. Hasilnya kompetisi kita terbelah menjadi 2. Liga Prima Indonesia (LPI) yang dikelola oleh PT. Liga Prima Indonesia Sportindo yang diakui oleh PSSI yang berkuasa saat ini dikuti oleh 12 klub. Disisi lain Liga Super Indonesia dibawah kendali PT Liga Indonesia yang tidak diakui oleh PSSI justru diikuti oleh klub – klub papan atas Indonesia. Belum lagi klub klub besar yang terbelah menjadi dua bahkan tiga klub akibat ruwetnya PSSI saat ini. Klub – klub yang trebelah tersebet adalah Persija, Arema, Persebaya dan PSMS.
Yang membuat menarik dan aku merasa ini sangat lucu adalah bahwa LPI yang diharamkan oleh pengurus sebelumnya dan hanya mengakui LSI menjadi legal di bawah kendali pengurus baru. Walaupun klubnya beda tapi mereka adalah hasil merger dengan klub peserta LPI saat ini. Sementara LSI yang sebelumnya merupakan Liga Legal menjadi Ilegal dibawah kendali pengurus baru. Entah sampai kapan keruwetan ini akan berlangsung. Agaknya orang – orang yang saling berebut pengaruh tersebut sama sekali tidak perduli dengan prestasi sepakbola nasional. Mereka lebih mementingkan ego kelompoknya hingga rela mengorbankan klub dan pemain.
Siapa dua kubu yang bermain di PSSI saat ini?
Mengacu pada diskusi teman teman di kaskus maka bisa saya simpulkan kelompok yang bermain adalah Bakrie (dengan Golkar di belakangnya) dan Arifin Panigoro (belum kelihatan kepentingan apa yang melatarbelakanginya). Sekali lagi ini hanya hasil kesimpulan saya terhadap opini dan diskusi teman – teman di kaskus. Ada Milyaran rupiah yang beredar didalamnya. Arifin Panigoro yang oleh teman-teman di sebut AP telah mengeluarkan Milyaran rupiah untuk menggulirkan LPI guna mendongkel kekuasaan pengurus sebelumnya. Orang – orang yang berkuasa di PSSI saat ini diyakini memiliki loyalitas yang sangat tinggi pada AP. Demikian juga bakrie yang mengeluarkan uang yang tidak sedikit guna mensponsori klub klub yang saat ini berlaga di Liga Super Indonesia. Bukan rahasia lagi kalau pengurus yang tersingkir adalah orang-orang yang memiliki loyalitas pada Bakrie.
Sampai kapan keruwetan ini akan berlangsung kita tidak tahu pasti. Selama urusan olahraga masih dicampuri oleh kepentingan politik saya yakin sepakbola kita tidak akan pernah maju. Harus ada orang – orang profesional yang cinta Indonesia yang mengendalikan PSSI kedepannya. Apapun alasannya sepakbola adalah olahraga yang paling digemari di Indonesia yang harus kita jaga dan kembamgkan bersama. Buang semua ego dan kepentingan pribadi maupun kelompok demi kepentingan bersama.
Ketika membuka laptop yang terhubung dengan internet hal pertama yang aku baca tentu saja situs situs yang memberitakan sepakbola nasional





