Mendaki Gunung Semeru
“Kalian Cuma bertiga?” tanya seorang laki-laki tua pada kami. “Ya pak” jawabku singkat dalam bahasa Jawa. “Jangan di teruskan, lebih baik kembali saja pulang” kata laki – laki itu sambil memandang kami dengan pandangan tajam. Kami bertiga, saya dan dua orang sepupu saya Mulyo dan Ari sedang berteduh di sebuah gubug di tepi ladang kentang desa Ranu Pane. Dihadapan kami ada seorang laki – laki tua dan anak gadisnya pemilik gubuk tempat kami berteduh. Kami melingkari perapian yang sudah hampir habis kayu bakarnya, namun api yang hanya berupa arang menyala cukup menghangatkan. Diluar tampak hujan deras disertai petir yang menggelegar. Laki – laki dihadapan kami yang kami ketahui bernama Pak Karyono ternyata adalah ketua adat Hindu desa Ranu Pane. Umurnya kami perkirakan sekitar 60an namun terlihat masih sangat kuat untuk orang seumuran dia. Putrinya yang duduk di sampingnya memperhatikan kami dengan seksama sambil sesekali menyudutkan kayu bakar pada perapian.
Sedikit ragu aku bertanya “memang kenapa pak?”. Mulyo dan Ari saling pandang menunjukkan kebingunagan yang sama denganku. “Kalau mendaki Gunung apalagi seperti Gunung Semeru ini yang harus di hindari itu bertiga atau berlima” kata Pak Karyono. “Dalam istilah jawa bertiga atau berlima itu namanya ‘gotong mayit’ (Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah mengusung jenasah). Tinggal kalian percaya atau tidak percaya, biasanya salah satu dari kalian akan mengalami kecelakaan kalau tetap memaksakan mendaki gunung dengan formasi gotong mayit” kata Pak Karyono menjelaskan.
Antara percaya dan tidak percaya kami hanya bisa saling pandang. Hari itu Sabtu tanggal 19 Maret 2011 kami berangkat mendaki Gunung Semeru. Kami sengaja memilih tanggal ini dengan harapan bisa melihat fenomena alam yaitu “supermoon” dari atas gunung. “Supermoon” adalah posisi terdekat bumi dengan bulan. Pada posisi ini bulan akan terlihat sangat besar dan bundar. Dari Kota Malang kami naik sepeda motor menuju desa Ranu Pane kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang. Bagi anak – anak yang tinggal di kota Malang dan sekitarnya seperti kami sudah biasa kalau hendak mendaki Gunung Semeru naik sepeda motor sampai desa Ranu Pane. Di desa Ranu Pane sepeda motor kami titipkan di rumah penduduk. Kami menitipkan sepeda motor kami pada Pak Susiono salah seorang ketua RT di desa tersebut.
Desa Ranu Pane terletak pada ketinggian 2.200 meter diatas permukaan laut (mdpl) yang juga merupakan Pos pertama dalam pendakian ke semeru. Desa Ranu Pane juga desa terakhir di kaki gunung Semeru. Terdapat dua danau di desa ini yaitu Ranu Pane yang luasnya sekitar 1 ha dan Ranu Regulo yang lebih kecil dari Ranu Pani yaitu sekitar 0,75 ha. Gunung Semeru dengan puncak Mahameru adalah gunug api tertinggi di pulau jawa dengan ketinggian 3.676 meter diatas permukaan laut (mdpl). Gunung Semeru tepat berada di taman hutan bromo tengger semeru dan merupakan jalur cincin api di Indonesia. Dari Desa Ranu Pane ada dua alternatif jalan untuk menuju Pos Berikutnya yaitu Ranu Kumbolo. Alternatif pertama adalah lewat jalur resmi yang di gunakan oleh para pendaki. Dari pos pemeriksaan di menyusur ke arah kiri bukit. Jalaurnya agak panjang namun lebih landai. Alternatif kedua adalah jalan pintas lewat gunung hayak-hayak yang biasanya di pake penduduk untuk mencari kayu di hutan. Jalurnya lebih pendek namun sangat menanjak. Butuh stamina yang benar – benar kuat kalau ingin lewat jalur ini. Karena saya pernah mendaki Gunung Semeru lewat jalur resmi kali ini saya bersama dua saudara saya mencoba lewat Gunung hayak-hayak.
Jam menunjukan pukul 3 sore. Hujan tampak mulai reda. Akhirnya Pak Karyono mengajak kami mampir ke rumahnya. Sekitar 15 menit kami menyusuri ladang yang sebagian besar ditanami kentang sampai ke rumah Pak Karyono. Saya mengusulkan pada Pak Karyono untuk membantu kami mencarikan seorang porter untuk melengkapi jumlah kami. Porter adalah warga desa yang dibayar untuk membantu menunjukkan jalan dan membawa perbekalan. Ada dua alasan kenapa saya memutuskan mencari seorang porter. Pertama sebagai penunjuk jalan karena kami tidak pernah naik lewat jalur pintas melewati gunung hayak hayak. Kedua untuk menghormati kearifan lokal sehingga jumlah kami menjadi 4 yaitu kami bertiga bersama seorang porter. Mengingat cuaca semeru juga masih buruk kamipun memutuskan untuk mendaki sampai Ranu Kumbolo saja untuk menyaksikan fenomena alam supermoon.
Sekitar setengah lima sore kami berempat mulai melakukan pendakian. Seorang porter yang kami ketahui bernama Mas Wagiman selai badannya kuat juga mengaku terbiasa melakukan pekerjaannya menjadi porter. Bahkan di bulan agustus tepat musim pendakian paling rame di semeru Mas Wagiman mengaku pernah sampai 3 kali bolak balik dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo. Mas Wagiman banyak memberikan tips berguna agar kami kuat mendaki gunung terutama jalur yang menanjak tajam seperti jalur yang lewat gunung hayak – hayak ini. Tak terasa pukul setengah 8 malam kami sudah tiba di Ranu Kumbolo. Jarak dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo kurang lebih 10 km.
Ranu Kumbolo adalah danau yang luasnya sekitar 14 ha. Airnya sangat dingin karena berada di ketinggian 2.400 meter diatas permukaan laut (mdpl). Tidak ada pendaki di sini selain kami berempat. Akhirnya kamipun memutuskan untuk mendirikan tenda. Di ranu kumbolo sebenarnya terdapat pondok yang dibangun untuk para pendaki. Namun kami tetap memutuskan untuk mendirikan tenda sambil menyalakan api unggun untuk menghangatkan diri. Namun sayang harapan kami untuk menyaksikan supermoon dari Ranu Kumbolo tidak kesampaian. Sejak pukul 10 malam kabut tebal menyelimuti Ranu Kumbolo hingga pagi hari. Yang tampak di sekitar kita hanyalah awan putih pekat. Jarak pandangpun nyaris hanya sekitar 10 meter saja. Jangankan bulan yang jaraknya ribuan km dari bumi walaupun posisinya paling dekat dengan bumi, pondok pendaki yang juga di sebut shelter yang posisinya di sebelah kami kurang lebih 10 meter saja tidak kelihatan. Keesokan harinya kamipun memutuskan untuk langsung kembali ke Ranu Pane mengingat cuacanya pada saat itu sangat tidak mendukung untuk pendakian. Kalau hendak mendaki ke Gunung Semeru kami menyarankan pada para pendaki untuk melakukan antara bulan juli sampai september karena pada bulan bulan tersebut cuacanya sangat bagus.
Film Negreri 5 Menara
“Hah..sudah bulan Maret…” mataku melotot memandang kalender di kamar tidurku. Sebenarnya aku sudah tahu kalau sekarang sudah memasuki bulan maret namun aku masih terkejut saja betapa waktu berjalan amat sangat cepatnya. Tak terasa sudah memasuki bulan ketiga di tahun 2012. Serasa baru kemaren di awal tahun ketika aku mencanangkan resolusi bahwa tahun ini juga aku harus berhasil mendapatkan impianku untuk menjadi Master Amazon. Mendapatkan penghasilan minimal US$5000 dari affiliasi amazon.com. Aku begitu cemas karena sampai saat ini serasa belum melakukan apa-apa.
Di tengah kecemasanku dan kegalauanku setidaknya ada penyejuk dan pemberi semangat yakni diluncurkannya film Negeri 5 Menara. Film ini diadaptasi dari novel bestseller karya Ahmad Fuadi dengan judul sama. Sebagaimana novelnya film ini menceritakan perjuangan sekelompok anak yang bersahabat di Pondok Madani Ponorogo dalam meraih menara -menara impiannya.
Di film ini meninjukkan bahwa dalam meraih sebuah impian memang tidak semudah melewati jalan tol yang lurus tanpa hambatan. Banyak sekali hambatan dan rintangan namun dengan semangat “Manjadda wa jadda” sebuah mantra sakti yang diajarkan dipondok membuat mereka yang mengucapkannya seakan memiliki kekuatan untuk terus mengejar impian impiannya. Manjadda wa jadda artinya adalah siapa yang bersungguh sungguh pasti akan berhasil. Dengan usaha yang sungguh sungguh bukan hal mustahil kita bisa meraih apapun impian kita.
Ayo terus berjuang tanpa lelah untuk mewujudkan impian impian kita.






